Tag Archives: nyepi

Selamat Hari Raya Nyepi 2012 Tahun Baru Saka 1934

Nyepi 2012 Tahun Baru Saka 1934

Balikami.com mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi 2012 Tahun Baru Saka 1934 kepada umat Hindu yang menjalankannya pada tanggal 23 Maret 2012. Mari kita rayakan Nyepi dengan kesederhanaan & semoga tercapai keseimbangan Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.

Nyepi 2012

Nyepi 2012 Tahun Baru Saka 1934

[46]

Tapa Brata Penyepian 5 Maret 2011

Gubernur Bali
Gubernur harapkan Nyepi mampu perhalus jiwa yang penuh hasrat.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan bahwa perayaan Nyepi 5 Maret mendatang mengandung nuansa spiritual yang amat mendalam. Karena itu pelaksanaan Tapa Brata Penyepian dan rangkaian kegiatan ritual penyepian hendaknya mampu menghaluskan jiwa yang penuh dengan hasrat dan keinginan.

Karena itu, Gubernur Bali mengingatkan kesempatan melaksanakan Brata Penyepian agar dimanfaatkan untuk intropeksi dan melihat ke dalam diri masing-masing apa yang telah dilakukan.

“Jangan memanfaatkan hari istimewa ini untuk berjudi dengan sesama teman,” katanya, Minggu (27/2) kemarin di Gedung Jaya Sabha Denpasar.

Dengan demikian, umat Hindu di saat hari istimewa itu diharapkan mampu mengendalikan diri, sekaligus meningkatkan kerukunan antar umat beragama, yang selama ini sangat kokoh dan harmonis.

“Dari Bali kerukunan umat beragama yang harmonis itu dapat ditularkan ke daerah-daerah di Indonesia, dengan harapan mampu mewujudkan Indonesia yang tenteram, damai dan sejahtera,” harapnya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan, masyarakat internasional maupun umat non-Hindu di Bali sangat menghormati umat Hindu yang melaksanakan Tapa Brata Penyepian pada hari Sabtu (5/3) mendatang.

“Dukungan, rasa hormat dan saling menghargai satu sama lain itu hendaknya dapat dimanfaatkan umat Hindu untuk melaksanakan ibadah dengan baik,” kata Gubernur Bali.

Tapa Brata Penyepian adalah empat pantangan yang akan dilaksanakan pada peralihan Tahun Saka dari 1932 ke Tahun Baru Saka 1933, yang jatuh pada Sabtu, 5 Maret 2011.

Ia menegaskan, hal itu penting untuk lebih mendapat penekanan, mengingat beberapa kali pada peralihan Tahun Saka itu pernah “dinodai” dengan terjadinya konflik antar warga banjar yang saling bertetangga. Teruatama pada saat malam pangerupukan.

“Jangan sampai pawai ogoh-ogoh dimanfaatkan oleh pemuda untuk melampiaskan dendam warga antar banjar,” katanya.

Hal ini diingatkan agar hal tersebut tak terjadi lagi pada rangkaian pelaksanaan Brata Penyepian kali ini. Caranya masing-masing umat lebih mengendalikan diri untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, namun fokus pada pelaksanaan Tapa Brata Penyepian.

Keempat pantangan yang wajib dilakukan umat Hindu selama 24jam itu meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan aktivitas), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu maupun tidak mengadakan hiburan/bersenang-senang pada saat itu).

Pada bagian lain dia juga mengimbau kesadaran para pemilik media televisi untuk tisak melaksanakan siaran sehari sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan hari raya Nyepi di Bali.

Selain itu pihaknya juga telah berkirim surat kepada sejumlah menteri untuk mengingatkan penutupan pelabuhan dan bandara ketika umat Hindu melaksanakan Brata Penyepian 5 Maret mendatang.

Source: Dikutip dari harian Bali Post edisi Senin Paing, 28 Feb 2011.

Malam ini Bali gelap gulita

Seluruh umat Hindu di Bali malam hari ini, selasa (16/3/2010) tidak menyalakan lampu. Baik di jalan raya, depan rumah dan di dalam rumah. Untuk menjaga umatnya khusuk menjalankan amati geni, petugas keamanan desa atau pecalang mulai melakukan pengawasan keliling desa dengan bergiliran dari pagi hingga keesokan harinya. Mereka menghimbau warganya untuk tidak menyalakan lampu.

Selain tidak di Bali dilarang menyalakan lampu, umat Hindu juga tidak menikmati hiburan seperti mendengarkan musik dan televisi atau amati lelanguan. Suasana semakin senyap karena tidak ada kendaraan satupun yang melintas di jalanan.

Di hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931, umat Hindu menjalankan Catur Brata Nyepi, salah satunya yaitu amati geni atau tidak menyalakan api dan listrik.Suasana akan makin terasa gelap karena tidak ada bulan bersinar. Nyepi memang jatuh pada malam tilem kesangan (bulan mati). Selain umat Hindu, umatlainnya di Bali pun toleran dengan tidak menyalakan lampu di rumahnya dan tidak keluar rumah.

Pada hari Raya Nyepi ini bandara Ngurah Rai, pelabuhan laut Gilimanuk dan Padangbai ditutup aktivitas kegiatannya selama 24 jam. Kegiatan yang juga dilarang pada saat Nyepi, yaitu amati karya (tidak boleh bekerja) dan amati lelungaan (tidak berpergian).

Larangan tidak boleh menghidupkan lampu juga dilaksanakan oleh hotel-hotel yang ada dikawasan wisata, seperti Kuta, Sanur, dan Nusa Dua.Meskipun melaksanakan catur barata penyepian, fasilitas umum yang diijinkan beroperasi di Bali yaitu rumah sakit.

Bali Menanti Detik-detik Malam pengerupukan

Bagi kalangan anak muda, membuat ogoh-ogoh dengan berbagai upakara/upacaranya termasuk yadnya.Begitupula detik-detik menyambut malam pengerupukan Bali dipastikan ramai dengan pawai ogoh-ogoh. Intinya membangun keseimbangan bhuana agung lan bhuana alit.

Karena itu mengarak ogoh-ogoh juga disebut upaya nyomya buta kala/alam semesta atau membangun keseimbangan alam yang tadinya disharmonis akibat ulah manusia. Makanya ia sarankan jangan melampiaskan emosi dendam saat itu karena akan melahirkan makna yang sebaliknya.

Ogoh-ogoh juga menggairahkan atraksi berkesenian krama Bali. Mau tak mau sekaa gong tiap banjar berlatih menampilkan kreasi baleganjur terbaik. Demikian juga munculnya rasa kebersamaan. Tanpa bersatu tak mungkin krama banjar mampu membuat dan mengarak ogoh-ogoh.

Ungkapan itu juga dilakukan saat krama Bali maprani, adalah persembahan untuk segala makhluk di alam sekala dan niskala.

Untuk mengekspresikan bumi dalam wujudnya sebagai buta kala (ruang dan waktu) maka diberikan persembahan berupa tawur, caru dan sejenisnya. Ini merupakan ungkapam rasa terima kasih manusia kepada Hyang Widi atas kemurahannya menyediakan segala keperluan manusia.

Ogoh-ogoh sebagai salah satu produk budaya Bali pada pengerupukan (Tilem Kasanga) inilah waktunya untuk di-somya-kan dengan persembahan buta yadnya. Jadi, buta kala ini bukan diusir, namun dikembalikan ke alamnya.

Manusia tak boleh terlepas dari ruang (buta) dan waktu (kala). Manusia selalu berada dalam pergulatan waktu di dalam ruang itu sendiri. Makanya buta kala ini harus di-somya-kan dengan persembahan buta yadnya agar tak mengganggu kehidupan di jagat ini. Itulah sebabnya ada segehan agung, caru dan tawur mulai di perumahan, banjar, desa adat dan wilayah yang lebih luas lagi.

Karena diperkirakan jumlah banjar yang ada di Bali banyak sekali, maka ketika malam pengerupukan nanti, jumlah ogoh-ogoh yang diarak juga sangat banyak. Nah pada saat seperti ini, tua-muda, anak-anak, laki-perempuan, bule, wisatawan, domestik, atau mancanegara, semua turun kejalan.