Wednesday, Sep. 20, 2017

Tradisi ‘Ngurek’ : Tradisi Unik dan Sakral dari Bali

Written By:

|

August 29, 2017

|

Posted In:

Tradisi ‘Ngurek’ : Tradisi Unik dan Sakral dari Bali

Tradisi Ngurek

Selain terkenal akan dunia kepariwisataanya, Pulau Bali juga kaya akan tradisi budaya unik yang diturunkan dari leluhur-leluhur jaman dahulu dan dilestarikan oleh masyarakat. Begitu banyak tradisi Bali yang terkenal sampai keluar provinsi, salah satunya adalah tradisi ‘Ngurek’. ‘Ngurek’ adalah salah satu atraksi menusuk diri sendiri dengan menggunakan keris, peristiwa ini berlangsung ketika para pelaku/peserta ‘Ngurek’ berada dalam keadaan kerasukan (diluar kesadaran diri). Dalam beberapa ritual keagamaan di Bali, tradisi ‘Ngurek’ ini wajib dilaksanakan, hal ini sama dengan melambangkan wujud bakti seseorang yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Ngurek’ atau yang bisa disebut dengan ‘Ngunying’ termasuk salah satu dari upacara Dewa Yadnya, atau dalam kepercayaan Hindu ‘Persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa’. Kata ‘Ngurek’ berasal dari kata ‘urek’ dalam Bahasa Bali yang berarti melubangi atau menusuk, jadi ‘Ngurek’ bisa diartikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk melubangi/menusuk bagian tubuh sendiri dengan keris, tombak, atau alat lainnya dalam kondisi tidak sadar.

Ngurek’ pada zamannya hanya dilakukan oleh para pemangku (tokoh keagamaan Hindu), namun kini orang yang melakukan Ngurek tak lagi dibedakan statusnya, bisa pemangku, penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat, laki-laki dan perempuan. Tapi suasananya tetap yaitu mereka melakukannya dalam keadaan kerasukan. Kendati keris yang terhunus itu ditancapkan ketubuh, namun tidak setitikpun darah yang keluar atau terluka.

Tradisi Ngurek

Tradisi unik ‘Ngurek’ ini biasa dilakukan di luar kompleks pura utama. Sebelum ‘Ngurek’ dimulai, biasanya dilaksanakan tarian Barong dan Rangda serta para pepatih yang kerasukan itu keluar dari dalam kompleks pura utama dan mengelilingi wantilan pura (bagian luar Pura) sebanyak 3 kali. Saat melakukan hal itulah, para pepatih mengalami titik kulminasi spiritual tertinggi.

Kerasukan dalam Ngurek, biasanya terjadi setelah melakukan proses ritual. Untuk mencapai klimaks kerasukan, mereka harus melakukan beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga  yang terdiri dari:

  1. Nusdus adalah merangsang para pelaku ngurek dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerasukan.
  2. Masolah merupakan tahap menari dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan.
  3. Ngaluwur berarti mengembalikan pelaku ngurek pada jati dirinya

Masuknya roh kedalam diri para pengurek ini ditandai oleh keadaan: badan menggigil, gemetar, mengerang dan memekik, dengan diiringi suara gending gamelan,  para pengurek yang  kerasukan, langsung menancapkan senjata, biasanya berupa keris pada bagian tubuh di atas pusar seperti dada, dahi, bahu, leher, alis dan mata, walaupun keris tersebut ditancapkan dan ditekan kuat kuat secara berulang ulang, jangankan berdarah, tergores pun tidak kulit para pengurek tersebut, roh yang ada didalam tubuh para pengurek ini menjaga tubuh mereka agar kebal, tidak mempan dengan senjata.

Tradisi Ngurek ini merupakan kebiasaan masyarakat Bali, dimana saat upacara mengundang roh leluhur dilakukan, para roh diminta untuk berkenan memasuki badan orang-orang yang telah ditunjuk, dan menjadi sebuah tanda, bahwa roh-roh yang diundang telah hadir di sekitar mereka. Tradisi Ngurek juga dipercaya, untuk mengundang Dewa dan para Rencang-Nya, berkenan menerima persembahan ritual saat upacara. Jika orang-orang yang ditunjuk sudah kerasukan dan mulai Ngurek, maka masyarakat bisa mengetahui dan meyakini kalau Dewa sudah turun ke dunia.

Sumber :

http://kebudayaandantradisi.blogspot.co.id/2013/01/tradisi-ngurek.html

http://bali.panduanwisata.id/festival/tradisi-ngurek-yang-ekstrem/

Share This Article

Related News

Ungkapkan Rasa Syukur Dengan Perang Tipat-Bantal
Tradisi pemakaman unik di Desa Teruyan Kintamani, Bali
Makna Ogoh-ogoh Saat Hari Raya Nyepi

About Author

yuni

Leave A Reply

Leave a Reply