Wednesday, Sep. 20, 2017

Tradisi pemakaman unik di Desa Teruyan Kintamani, Bali

Written By:

|

September 7, 2017

|

Posted In:

Tradisi pemakaman unik di Desa Teruyan Kintamani, Bali

Teruyan, sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Terunyan berada di berada dekat Danau Batur, di bawah Gunung Batur. Di Desa Teruyan yang merupakan desa tertua yang ada di Bali. Desa ini memiliki tradisi pemakaman yang unik dimana mayatnya itu tidak dilakukan dengan mengkuburnya ataupun membakarnya melainkan mayat akan diletakan di tempat yang khusus, tempat itu dinamakan dengan Seme Wayah, mayat itu akan ditaruh di atas batu besar yang memilki cekungan 7 buah.

Adat Desa Teruyan menggunakan aturan untuk menguburkan mayat.Di desa ini ada tiga kuburan atau seme menurut kematiannya.Untuk masyarakat yang meninggal secara wajar, mayatnya akan akan ditutupi menggunakan kain putih, melakukan upacara, dan menempatkan mayat tersebut di bawah pohon besar yang bernama Taru Menyan atau Sema Wayah, jika penyebab kematiannya tidak wajar, seperti kecelakaan atapun karena dibunuh orang maka mayatnya akan ditempatkan di Sema Bantas. Dan untuk menguburkan bayi atau masyarakat yang sudah dewasa namun belum menikah ditempatkan di Sema Muda atau Rumah Miarta Yasa. Masyarakat di Desa Terunyan juga memiliki syarat untuk pemakaman, yaitu jumlah mayat yang berada di tanah dekat dengan Pohon Terunyan tidak boleh melebihi dari 11 mayat.

Di pemakaman itu terdapat sebuah pohon besar yang sangat tinggi yang bernama Taru Menyan. Taru yang memiliki arti pohon dan menyan yang berarti wangi, jadi pohon itu kan menghilangkan bau-bau yang tidak sedap yang di keluarkan oleh mayat-mayat tersebut. Pohon Taru Menyan hanya tumbuh di daerah ini dan dikenal dengan Terunyan, yang diyakini sebagai asal usul Desa Terunyan. Pohon Terunyan memiliki usia yang sudah mencapai ribuan tahun, pohon itu tidak banyak mengalami perubahan dari segi ukuran.

Untuk menghindari serangan dari binatang buas mayat-mayat tersebuat diberi penghalang menggunakan ulatan bambu. Ada mitos yang menyebutkan, jika mayat yang berada di Seme Wayah tersebut mengalami pembusukan yang cukup lama makan mayat semasa hidup orang yang meninggal itu mempunya dosa yang banyak.Mayat-mayat di pemakaman itu memang dibiarkan hancur secara alami dan jika mayat tersebut sudah meninggalkan tulang maka akan dipindahkan menuju batu dan dijejerkan denagn tulang-tulang mayat lainnya.

Untuk ke Desa Terunyan, wisatawan perlu menggunakan akses jalur darat sekitar 45 menit, wisatawan juga bisa menggunakan akses dermaga di Kedisan.

Sumber:

id.wikipedia.org/wiki/Terunyan,_Kintamani,_Bangli

www.kompasiana.com/urel/desa-trunyan-mayat-tanpa-dikubur-dan-desa-anti-gempa_5500388e813311fb16fa74aa

Share This Article

Related News

Ungkapkan Rasa Syukur Dengan Perang Tipat-Bantal
Indahnya Tegalalang Rice Terrace Ubud Bali
Makna Ogoh-ogoh Saat Hari Raya Nyepi

About Author

milasari

Leave A Reply

Leave a Reply