Penglipuran, Desa Adat di Kabupaten Bangli, menyimpan satu minuman tradisional berwarna hijau yang jadi sorotan wisatawan dan penikmat kuliner lokal: loloh cemcem. Minuman ini dikenal karena kombinasi rasa asam, manis, asin, sedikit pahit, dan pedas dalam satu sajian, serta penggunaan daun cemcem sebagai bahan utama.
Asal dan konteks budaya
Loloh cemcem berasal dari Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli. Menurut inventarisasi Ceraken Kebudayaan Bali milik Pemerintah Provinsi Bali, keberadaan minuman ini terkait dengan kehidupan agraris masyarakat setempat pada masa lampau. Pada awalnya, loloh cemcem dikonsumsi di lingkungan rumah sebagai bagian dari praktik pengolahan bahan alami yang diwariskan antargenerasi.
Bahan utama dan proses pembuatan
Keunikan loloh cemcem terletak pada pemanfaatan daun cemcem (kedondong hutan) yang dikenal dengan nama ilmiah Spondias pinnata sebagai bahan pembentuk sari minuman. Proses pembuatan yang tercatat dalam praktik lokal umumnya meliputi beberapa tahapan berikut.
- Persiapan dan pengolahan daun
- Daun cemcem dibersihkan dari kotoran dan bahan asing.
- Daun dihaluskan atau ditumbuk untuk meluruhkan sari, lalu disaring untuk memisahkan ampas dari cairan.
- Pencampuran bahan tambahan
- Sari daun yang diperoleh dicampur dengan bahan lain sesuai resep.
- Bahan tambahan yang dicatat dalam praktik setempat meliputi asam jawa atau asam, gula aren atau sedikit gula, garam, cabai, dan kelapa muda.
- Komposisi dan proporsi bahan dapat berbeda antarprodusen atau keluarga yang memiliki resep turun-temurun.
- Penyajian
- Setelah tercampur, minuman biasanya didinginkan sebelum disajikan untuk memberikan sensasi menyegarkan.
Keterangan tentang bahan dan langkah di atas bersumber dari catatan praktik lokal dan penelusuran budaya kuliner setempat.
Daun cemcem: karakter bahan
Daun cemcem memberi rasa asam dan sedikit sepat yang menjadi dasar cita rasa loloh cemcem. Warna hijau alami minuman berasal dari pigmen dalam daun setelah sari diekstraksi. Rasa dasar tersebut kemudian seimbang oleh gula aren, rasa gurih kelapa, garam, dan sentuhan pedas dari cabai sesuai resep masing-masing pembuat.
Karakter rasa dan kebiasaan penyajian
Perpaduan rasa pada loloh cemcem menonjol karena lapisan rasa yang kontras namun terangkai dalam satu gelas. Ciri khas yang tercatat adalah:
- Profil rasa
- Asam dan sepat dari sari daun cemcem.
- Manis dari gula aren atau gula sedikit.
- Gurih ringan dari kelapa muda.
- Sedikit pahit alami dan sensasi pedas dari cabai.
- Penyajian
- Minuman umumnya dinikmati dalam keadaan dingin, terutama pada cuaca panas.
- Loloh cemcem kerap ditawarkan kepada wisatawan yang mengunjungi Desa Penglipuran sebagai minuman penyegar tradisional.
Penyajian dingin dan kombinasi bahan membuat loloh cemcem menjadi alternatif selain minuman manis biasa di kawasan wisata.
Dari minuman rumahan ke produk khas desa
Permintaan wisatawan yang meningkat menciptakan peluang ekonomi bagi produsen lokal. Catatan praktik produksi menunjukkan perkembangan dari skala rumahan menjadi produksi yang dipasarkan sebagai produk khas desa. Perkembangan ini membuka pilihan pemasukan tambahan bagi warga yang memproduksi dan menjual loloh cemcem di tingkat desa maupun daerah sekitarnya.
Klaim manfaat kesehatan dan keterbatasan bukti
Di dalam kepercayaan masyarakat setempat terdapat klaim manfaat kesehatan terkait konsumsi loloh cemcem. Namun klaim pengobatan tertentu belum dapat dipastikan tanpa bukti ilmiah yang memadai. Oleh karena itu, klaim manfaat kesehatan dicatat sebagai bagian dari kepercayaan lokal, bukan sebagai fakta medis yang terverifikasi.
Kesimpulan
Loloh cemcem adalah minuman tradisional dari Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, yang dibangun di atas pemanfaatan daun cemcem (Spondias pinnata) dan bahan tradisional lain seperti asam jawa, gula aren, garam, cabai, serta kelapa muda. Minuman ini menonjolkan perpaduan rasa asam, manis, asin, sedikit pahit, dan pedas, dan umumnya disajikan dingin. Inventarisasi budaya setempat mengaitkan loloh cemcem dengan kehidupan agraris masa lampau, sementara meningkatnya minat pengunjung telah mendorong peralihan produksi dari rumahan menuju produk khas desa yang memberi peluang ekonomi bagi warga Penglipuran.
