Pembuka: sehari setelah Nyepi di Banjar Kaja
Omed-omedan dilaksanakan setiap tahun sehari setelah Nyepi (Ngembak Geni) di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar. Tradisi ini melibatkan muda-mudi setempat yang saling berpelukan dan melakukan tarik-menarik dalam suasana ramai. Tokoh lokal menyatakan ritual dimaknai sebagai dharma shanti, yaitu upaya menjalin silaturahmi dan keharmonisan antarwarga.
Bagaimana prosesi berjalan
- Awal prosesi
- Acara dimulai dengan persembahyangan bersama di pura banjar.
- Setelah upacara, peserta berkumpul di lapangan atau jalan utama banjar dalam formasi dua kelompok: taruna/teruna dan taruni/teruni.
- Aksi inti: peluk dan tarik
- Peserta saling berpelukan dan melakukan tarik-menarik secara bergantian.
- Dalam kerumunan yang riuh, kontak pada area wajah seperti pipi, kening, atau bibir kadang terjadi karena posisi dekat; tokoh lokal menyatakan kontak tersebut umumnya tidak disengaja.
- Unsur unsur tambahan
- Jika ada peserta yang sulit melepaskan dari pelukan, mereka kadang diguyur air hingga basah.
- Dalam rangkaian acara kerap ditampilkan pertunjukan barong bangkung (barong babi) yang mengingatkan peristiwa legendaris tentang dua ekor babi hutan.
Siapa yang terlibat
- Peserta
- Muda-mudi lokal yang dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan gender tradisional untuk taruna dan taruni.
- Keterlibatan lebih luas dari warga biasanya terlihat sebagai penonton, penyelenggara adat, dan keluarga peserta.
- Tokoh kunci
- I Gusti Ngurah Oka Putra disebut sebagai penglingsir Desa Sesetan.
- Ngurah Bima hadir sebagai pewaris Puri Oka yang memberi penjelasan tentang makna dan pelaksanaan tradisi.
Makna dan asal-usul menurut pewaris lokal
- Makna
- Menurut pernyataan pewaris Puri Oka, praktik ini bermakna sebagai dharma shanti, yakni menjalin kebersamaan dan keharmonisan antarwarga.
- Asal-usul
- Beberapa pewaris keluarga Puri Oka dan penglingsir mengaitkan tradisi dengan masa Puri Oka. Umur tradisi diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 menurut keterangan para pewaris.
- Ada pula narasi lokal yang menyebut tradisi sempat dihentikan dan kemudian dikembalikan setelah muncul dua ekor babi hutan yang saling bertarung sebagai pertanda. Cerita ini muncul dalam beberapa penuturan sebagai penjelasan legendaris atas kelanjutan praktik, bukan konsensus sejarah rinci.
Klarifikasi soal sebutan “ritual ciuman massal”
- Persepsi publik
- Beberapa pihak menyebut Omed-omedan sebagai ‘ritual ciuman massal’ karena adanya kontak wajah dalam kerumunan.
- Penjelasan tokoh lokal
- Pewaris Puri Oka dan tokoh desa menyatakan sebutan itu keliru. Mereka menegaskan fokus acara adalah pelukan dan tarik-menarik, sementara kontak wajah biasanya terjadi secara tidak disengaja akibat kondisi ramai.
Kronologi singkat menurut tradisi lisan
- Awal tradisi
- Tradisi dianggap sudah berlangsung sejak abad ke-17 menurut pewaris Puri Oka dan penglingsir.
- Periode interupsi dan pemulihan
- Dalam tradisi lisan disebutkan praktik sempat dihentikan; tidak ada tanggal spesifik dalam penuturan itu.
- Kemudian praktik dikembalikan setelah muncul cerita tentang dua babi hutan yang bertarung; sejak itu rangkaian Omed-omedan dilaksanakan rutin setiap Ngembak Geni.
Unsur budaya tambahan dalam perayaan
- Barong bangkung
- Penampilan barong bangkung sering hadir sebagai bagian dari rangkaian, mengingatkan kembali cerita tentang babi hutan yang disebut memicu pengembalian tradisi.
- Peran komunitas
- Penyelenggaraan melibatkan tokoh banjar, pewaris adat, dan peserta muda-mudi. Nama-nama tokoh lokal menjadi rujukan penjelasan tentang praktik dan maknanya.
Catatan mengenai variasi penjelasan
- Perbedaan narasi
- Terdapat variasi penjelasan soal asal-usul dan detail praktik dalam berbagai penuturan lokal serta laporan yang beredar.
- Penjelasan paling konsisten menyebut pelaksanaan sehari setelah Nyepi, dimulai persembahyangan di pura banjar, dan diikuti aksi peluk serta tarik-menarik.
- Cara memahami informasi
- Beberapa elemen yang masuk kategori cerita rakyat disampaikan sebagai variasi penjelasan historis, bukan bukti dokumen sejarah yang terverifikasi.
Kesimpulan: ritual, makna, dan tradisi lisan
Omed-omedan di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar adalah ritual tahunan sehari setelah Nyepi yang melibatkan saling peluk dan tarik-menarik antar muda-mudi. Tokoh lokal menjelaskan tradisi ini bermakna dharma shanti dan berakar pada hubungan dengan Puri Oka yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 menurut pewaris. Narasi tentang penghentian lalu pengembalian tradisi akibat peristiwa babi hutan muncul dalam tradisi lisan, sementara sebutan ‘ritual ciuman massal’ dibantah oleh pewaris karena kontak wajah umumnya tidak disengaja.
