Tradisi Unik Bali: Makna di Balik Tempelan Bawang Putih di Kening Bayi

Seorang ibu di Bali memakaikan hiasan bawang putih di dahi bayinya saat upacara di pura.

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Bali atau berinteraksi dengan masyarakat lokal, mungkin pernah melihat pemandangan yang unik sekaligus menggemaskan: seorang bayi yang sedang digendong keluar rumah tampak ditempeli secuil irisan bawang putih di kening atau ubun-ubunnya.

Bagi orang awam, hal ini mungkin terlihat tidak biasa. Namun, di balik praktik sederhana tersebut, tersimpan tradisi turun-temurun serta filosofi mendalam yang dipegang teguh oleh masyarakat adat Bali dalam melindungi sang buah hati.

Mengapa Bayi Bali Ditempeli Bawang Putih?

Dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Bali, bayi yang masih sangat kecil (terutama yang belum melalui upacara Melik atau Otonan tertentu) dianggap masih sangat rentan secara spiritual maupun fisik.

Tempelan bawang putih (atau kadang kala dipadukan dengan tangkai jangu) di bagian kening atau ubun-ubun memiliki beberapa fungsi utama:

1. Menangkal Energi Negatif (Sasaran Beburon / Leak)

Secara tradisional, masyarakat Bali percaya bahwa bayi baru lahir sangat peka terhadap energi tak kasat mata atau gangguan makhluk halus. Aroma tajam dari bawang putih diyakini mampu menjadi penolak bala alami (penangkis energi negatif) agar sang bayi tidak merasa terkejut, rewel, atau menangis tanpa sebab (kaget atau luwungan).

2. Perlindungan dari Penyakit dan Masuk Angin

Dari sudut pandang medis tradisional (herbal), bawang putih dikenal memiliki sifat menghangatkan dan antibakteri alami. Ubun-ubun bayi adalah bagian tubuh yang masih sangat lunak dan sensitif terhadap perubahan suhu udara luar. Menempelkan irisan bawang putih dipercaya dapat melindungi bayi dari angin dingin, perut kembung, atau masuk angin saat diajak bepergian keluar rumah.

Filosofi “Nyoman” dan Kearifan Lokal

Tradisi ini bukan sekadar mitos, melainkan bentuk ikhtiar batin para orang tua di Bali untuk memohon keselamatan bagi anak mereka. Hal ini mencerminkan kearifan lokal (local wisdom) bagaimana leluhur memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di dapur untuk merawat dan melindungi bayi dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia bayi (biasanya setelah melewati upacara tiga bulanan atau otonan pertama), tradisi ini perlahan-lahan ditinggalkan karena sang anak dianggap sudah lebih kuat secara fisik dan spiritual.

Kesimpulan

Tradisi menempelkan bawang putih pada kening bayi di Bali adalah salah satu potret indah bagaimana budaya, kepercayaan spiritual, dan pengobatan tradisional berpadu menjadi satu. Di balik tampilannya yang unik, tersimpan doa dan kasih sayang yang mendalam dari orang tua untuk melindungi anak tersayang dari segala marabahaya.

Back To Top