Bali Punya Ribuan Pura, Ternyata Fungsinya Tidak Sama! Ini Penjelasannya

Pulau Bali penuh dengan bangunan suci yang mudah ditemui di jalan kampung, pekarangan rumah, sawah, hingga puncak gunung. Namun tiap pura bisa berbeda fungsi, lingkup pemujaan, dan pengemponnya.


Pura di Bali adalah ruang suci untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan manifestasinya. Pemerintah Provinsi Bali menjelaskan bahwa pendirian pura mengikuti konsep teologi dan filosofi tertentu, termasuk tata ruang yang merefleksikan kosmologi Hindu melalui pembagian Tri Mandala: Uttama Mandala, Madhyama Mandala, dan Kanistama Mandala. Pembagian ruang ini menjadi dasar fungsi ritual dan penempatan unsur bangunan di dalam kompleks pura.

  1. Pura Kawitan: hubungan keluarga dan leluhur
  2. Pura Kawitan
  • Pura ini berkaitan langsung dengan garis keturunan atau satu keluarga. Dalam praktiknya, bentuk kecilnya dapat berupa Merajan atau Sanggah Kemulan di pekarangan rumah.
  • Pengempon dan pelaksana upacara biasanya anggota keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan spesifik dengan pura tersebut.
  • Penjelasan tentang Pura Kawitan tersedia dalam informasi tata ruang budaya yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Bali.
  1. Pura Kahyangan Desa: pusat kehidupan beragama desa
  2. Pura Kahyangan Desa
  • Pura yang fungsinya terkait kehidupan masyarakat dalam satu wilayah desa adat.
  • Bentuk yang sangat dikenal adalah Kahyangan Tiga, yang terdiri dari Pura Desa (Bale Agung), Pura Puseh, dan Pura Dalem.
  • Menurut dokumentasi Balai Pelestarian Cagar Budaya dan Kemdikbud, ketiga pura ini memiliki peran berbeda: Pura Desa berhubungan dengan aspek pencipta (Brahma), Pura Puseh dengan aspek pemeliharaan (Wisnu), dan Pura Dalem dengan aspek pralina yang berkaitan dengan kematian dan siklus kehidupan.
  • Kahyangan Tiga diposisikan sebagai struktur penting dalam tatanan desa adat untuk permohonan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Komponen Kahyangan Tiga: ringkas

  1. Pura Desa / Bale Agung
  • Dipakai untuk upacara yang memohon keselamatan desa; terhubung pada aspek pencipta.
  1. Pura Puseh
  • Tempat pemujaan pemelihara; berperan dalam keseimbangan sosial dan lingkungan.
  1. Pura Dalem
  • Menangani ritual terkait akhir hayat dan aspek pralina dalam kosmologi Hindu Bali.
  1. Pura Swagina: berorientasi pada profesi atau aktivitas bersama
  2. Pura Swagina
  • Pura yang lingkup pemujanya adalah kelompok berdasarkan profesi atau aktivitas ekonomi.
  • Contoh yang tercatat adalah Pura Melanting untuk masyarakat pedagang dan Pura Ulun Carik untuk petani sawah.
  • Fungsi sosial pura jenis ini meliputi penguatan solidaritas kelompok kerja dan penyelenggaraan upacara yang relevan dengan profesi mereka. Pemerintah Provinsi Bali mengelompokkan pura-pura ini dalam kajian tata ruang budaya.
  1. Pura Kahyangan Jagat: lingkup pemujaan umum
  2. Pura Kahyangan Jagat
  • Lingkupnya umum, tidak terbatas pada keluarga, desa, atau profesi tertentu.
  • Contoh utama yang sering disebut adalah Pura Besakih sebagai salah satu Kahyangan Jagat penting di Bali.
  • Pura jenis ini menjadi tempat umat dari berbagai latar belakang datang untuk bersembahyang, dan masing-masing pura memiliki sejarah serta tradisi lokal yang berbeda-beda.

Mengapa fungsi pura bisa berbeda?
Perbedaan fungsi pura tercermin dari hubungan yang dipertahankan antara manusia dan beberapa dimensi kehidupan: Tuhan, leluhur, komunitas lokal, wilayah adat, serta aktivitas ekonomi sehari-hari. Prinsip Tri Hita Karana, harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan, sering digunakan sebagai kerangka untuk menjelaskan posisi pura dalam struktur sosial dan tata ruang. Pemerintah Provinsi Bali menegaskan bahwa rancangan tata ruang pura dan pemilihan lokasi mengikuti kerangka kosmologis dan sosiokultural ini.

Bagaimana mengenali fungsi sebuah pura di lapangan?

  1. Perhatikan lokasi dan penempatan
  • Pura di halaman rumah atau pekarangan umumnya berkaitan dengan keluarga (Pura Kawitan).
  • Pura utama desa biasanya berada pada posisi sentral dalam struktur desa adat.
  1. Amati nama dan upacaranya
  • Nama tradisional seperti Pura Melanting atau Ulun Carik mengisyaratkan keterkaitan dengan profesi tertentu.
  • Upacara dan jadwal piodalan memberi petunjuk siapa pengempon dan siapa yang menjadi peserta utama.
  1. Tinjau struktur ruang
  • Pembagian Tri Mandala dan orientasi bangunan membantu menegaskan fungsi ritual sesuai kosmologi Hindu Bali.

Kesimpulan singkat
Fungsi pura di Bali tidak seragam karena setiap pura muncul dari kebutuhan teologis, genealogis, territorial, atau profesi tertentu. Dokumen resmi Pemerintah Provinsi Bali dan publikasi Kemdikbud mencatat klasifikasi utama: Pura Kawitan, Pura Kahyangan Desa (termasuk Kahyangan Tiga), Pura Swagina, dan Pura Kahyangan Jagat. Klasifikasi ini membantu memahami siapa pengempon pura, ruang ritualnya, dan peran pura dalam kehidupan masyarakat adat.

Back To Top