Saat berlibur ke Pulau Dewata, salah satu pemandangan khas yang hampir pasti Anda temui di mana-mana adalah keberadaan canang sari atau segehan—sesajen kecil berisi bunga, beras, dan janur—yang diletakkan di lantai, depan pintu toko, trotoar, hingga persimpangan jalan.
Bagi wisatawan, keberadaan sesajen di permukaan tanah ini sering kali menimbulkan rasa penasaran. Namun, ada satu aturan tidak tertulis yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat lokal: sesajen tidak boleh dilangkahi atau diinjak secara sengaja.
Mengapa demikian? Berikut adalah penjelasan budaya dan makna spiritual di balik tradisi tersebut.
1. Murni sebagai Bentuk Penghormatan Jiwa dan Spiritual
Dalam kepercayaan Hindu Bali, sesajen seperti canang sari dan segehan bukan sekadar hiasan bunga. Sesajen adalah wujud bakti, rasa syukur, serta doa yang dipersembahkan kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dan manifestasi-Nya, maupun pendoaan untuk keseimbangan alam semesta.
Ketika sesajen sudah dihaturkan dan didoakan dengan tirta (air suci) serta asap dupa, benda tersebut diyakini mengandung energi spiritual yang suci. Melangkahi sesuatu yang dianggap suci dalam budaya Nusantara—khususnya Bali—dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan atau kurang menghormati keagungan nilai spiritual tersebut.
2. Bagian Tubuh dan Konsep Kesucian (Kepala vs. Kaki)
Dalam budaya Bali, terdapat konsep pemaknaan tubuh manusia yang terbagi menjadi tiga bagian (Tri Angga):
- Uttama Angga (Kepala): Bagian paling suci.
- Madhyama Angga (Badan): Bagian tengah.
- Nishtha Angga (Kaki): Bagian paling bawah.
Kaki dianggap sebagai bagian tubuh yang paling rendah dan berhubungan dengan hal-hal yang kurang bersih secara spiritual. Oleh karena itu, melangkahi sesajen (yang posisinya di bawah) menggunakan kaki dianggap membawa energi tidak bersih di atas persembahan yang suci.
3. Menjaga Keseimbangan Alam (Harmoni Tri Hita Karana)
Masyarakat Bali sangat memegang teguh filosofi Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab kebahagiaan yang bersumber dari hubungan harmonis antara:
- Manusia dengan Tuhan (Parahyangan)
- Manusia dengan Sesama (Pawongan)
- Manusia dengan Alam/Lingkungan (Palemahan)
Sesajen seperti segehan yang diletakkan di jalanan secara khusus ditujukan untuk menjaga keseimbangan dengan unsur-unsur alam bawah (Sarwa Bhuta) agar tidak mengganggu ketenteraman kehidupan manusia. Menghormati posisi sesajen ini adalah bentuk keterlibatan kita dalam menjaga tatanan dan harmonisasi lingkungan sekitar.
4. Bagaimana Jika Tidak Sengaja Tertendang atau Terlangkahi?
Sebagai wisatawan atau pendatang, ada kalanya kita kurang fokus dan tidak sengaja menyenggol, melangkahi, atau menginjak sesajen. Jika hal itu terjadi, jangan panik.
Masyarakat Bali sangat memahami bahwa ketidaksengajaan bukanlah sebuah niat buruk. Berikut hal sederhana yang bisa Anda lakukan:
- Ucapkan Maaf: Cukup katakan “Om Swastyastu” atau “Maaf, tidak sengaja” dengan tulus kepada warga atau pemilik tempat di dekat lokasi.
- Atur Langkah Kembali: Jika memungkinkan dan aman, Anda bisa menyimpang sedikit untuk menghindari area sesajen tersebut.
- Perhatikan Dupa yang Masih Menyala: Sesajen dengan dupa yang masih menyala menandakan proses persembahyangan baru saja selesai atau sedang berlangsung. Berikan perhatian ekstra pada area ini saat berjalan.
Kesimpulan
Keberadaan sesajen di Bali adalah simbol indahnya rasa syukur dan kesadaran spiritual yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami alasan di balik tradisi ini, kita tidak hanya menjadi wisatawan yang cerdas, tetapi juga tamu yang menghargai nilai-nilai lokal tempat yang kita kunjungi.
