Kamu lagi jalan-jalan ke Bali dan pengin nyoba kuliner lokal yang simple tapi nendang di lidah? Yuk, kenalan sama jajan laklak. Kue kecil ini sering dipanggil serabi versi Pulau Dewata. Bentuknya kecil-cekuk, warna hijau segar karena daun suji, dan paling enak disantap hangat. Biar terasa akrab, aku jelasin pelan-pelan biar kamu bisa langsung cari atau pesan waktu di sana.
Kenalan dulu sama bahan dan cara masaknya
Kamu pasti suka kalau makanan dibuat dari bahan yang familiar. Nah, laklak pakai bahan yang gampang dikenali: tepung beras, santan, dan daun suji sebagai pewarna sekaligus pemberi aroma. Di beberapa versi ada juga yang pakai daun pandan sebagai alternatif.
Cara tradisionalnya gimana sih?
Prosesnya masih tradisional, kok. Adonan dituang ke cetakan tanah liat berbentuk cekung kecil, terus diletakkan di atas tungku atau kompor tanah liat yang bahan bakarnya kayu. Teknik memanggang pakai kayu ini yang bikin laklak punya tekstur khas: bagian luar agak renyah sementara bagian dalam tetap lembut dan kenyal. Beberapa warung bahkan memakai kayu kopi untuk menambah aroma yang unik.
Rasa dan penyajiannya: gurih, manis, kamu pasti ketagihan
Sebelum masuk ke urutan topping, nih, aku bilang dulu: selera orang beda-beda, tapi kombinasi klasik ini jarang salah. Nah, di sinilah bagian paling asyik, cara penyajian yang bikin laklak jadi istimewa:
- Taburan kelapa parut
- Kelapa yang dipakai biasanya kelapa muda, diparut dan diberi sedikit garam sehingga terasa gurih.
- Siraman juruh (gula merah cair)
- Juruh adalah gula merah cair atau gula aren yang manisnya lumer di mulut saat bersatu dengan santan dan kelapa.
Waktu kamu gigit, rasa gurih santan ketemu manis juruh dan tekstur kelapa yang sedikit berontak di mulut, itu kombinasi yang bikin ingin nambah terus. Laklak umumnya disajikan hangat dan dibuat fresh setiap hari.
Variasi rasa dan tempat nyari yang asyik
Kamu suka yang klasik atau mau yang agak modern? Laklak juga punya varian yang cukup beragam di warung-warung. Sebelum aku tulis daftar, yuk aku bilang dulu: ekspektasi tiap tempat beda-beda, jadi rasanya bisa sedikit berubah sesuai resep rumah makan itu.
- Varian yang sering ditemui
- Laklak original: versi paling tradisional, topping kelapa + juruh.
- Laklak gula tengah: gula yang diletakkan di tengah kue.
- Laklak campur: campuran beberapa topping.
- Varian rasa: nangka, pisang, atau keju susu sebagai sentuhan modern.
- Beberapa warung yang dikenal menyajikan laklak di Denpasar dan sekitarnya
- Warung Laklak Pancoran
- Warung Kuncir (di kawasan Renon)
- Warung Laklak Men Yudi (Suradipa, Denpasar Utara)
- Laklak Buleleng Laku 168
- Laklak Bali Ayu Hoki
Selain warung-warung itu, kamu juga bisa nemu laklak di pasar tradisional, warung klontong, atau stan kuliner di area wisata. Perlu diingat, ketersediaannya kadang simpang siur: ada hari-hari tertentu beberapa warung buka pagi, ada juga yang mulai lebih siang. Jadi, kalau kamu pengin pasti, cek langsung lokasi atau jam buka waktu di sana.
Pas buat sarapan atau cemilan sore sambil ngopi
Kalau kamu tipe yang suka ngopi pagi atau santai sore, laklak cocok banget jadi teman minumnya. Banyak warung yang mulai berjualan sejak pagi sehingga cocok buat sarapan ringan. Kue yang hangat plus kopi hitam terasa pas, apalagi kalau kamu suka makanan yang manis-gurih.
Kamu juga bisa beli laklak per porsi atau dalam nampan kalau buat acara kecil. Di warung tradisional biasanya dibuat fresh tiap hari, jadi rasanya relatif stabil asalkan datang ke tempat yang memang konsisten masaknya.
Kesimpulan singkat
Kalau lagi di Bali dan pengin dessert lokal yang simpel tapi berkarakter, laklak layak dimasukin ke daftar cicipan kamu. Warna hijau alami dari daun suji, tekstur renyah-kenyal, serta kombinasi kelapa dan gula merah bikin pengalaman yang hangat dan bersahaja. Selamat mencoba rasa lokalnya waktu kamu ke sana!
