Mendorong Pariwisata Hijau, Bali Percepat Langkah Menuju Mandiri Energi Bersih 2030

Pulau Bali terus mempertegas komitmennya dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pariwisata, dan kelestarian alam. Melalui percepatan program Bali Mandiri Energi Bersih 2030, Pulau Dewata menargetkan kemandirian pasokan listrik yang berorientasi penuh pada sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) dan bebas dari ketergantungan energi fosil.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui pengembangan berbagai proyek ramah lingkungan, salah satunya penguatan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di kawasan pemukiman, gedung pemerintahan, hingga fasilitas pariwisata. Selain itu, kawasan Gilimanuk dan beberapa wilayah strategis di Bali Barat serta Bali Utara terus dioptimalkan sebagai pusat potensi energi surya skala besar guna menopang sistem kelistrikan pulau secara mandiri.

Tuntutan Pariwisata Berkelanjutan
Percepatan transisi energi ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan domestik, melainkan juga menjawab standar baru industri pariwisata global. Wisatawan internasional saat ini semakin kritis terhadap jejak karbon destinasi yang mereka kunjungi (sustainable tourism).

Sektor akomodasi seperti hotel, resor, dan tempat hiburan di kawasan Badung dan Gianyar kini mulai mengadopsi integrasi panel surya untuk menekan operasional harian. Penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle) untuk transportasi wisata di kawasan-kawasan utama juga terus didorong melalui penambahan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Harmoni Filosofi Tri Hita Karana
Penerapan energi ramah lingkungan di Bali memiliki landasan kultural yang kuat, yakni filosofi Tri Hita Karana—khususnya konsep Palemahan, yang mengajarkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam sekitar.

Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil dianggap sebagai bentuk nyata pelaksanaan tradisi menjaga kesucian dan kebersihan alam Bali dari pencemaran udara dan dampak perubahan iklim.

“Langkah menuju energi bersih bukan sekadar urusan teknis kelistrikan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral kita untuk menjaga kesucian alam Bali. Wisatawan yang datang kini melihat bahwa Bali tidak hanya menjual keindahan pantai, tetapi juga komitmen menjaga lingkungan,” ujar Made Wira, salah satu pengamat ekologi pariwisata lokal.

Tantangan dan Harapan Ke Depan
Meskipun potensi pengembangan EBT di Bali sangat besar, beberapa tantangan teknis masih harus dihadapi. Di antaranya adalah kesiapan jaringan listrik (grid system) untuk menerima pasokan energi terbarukan yang bersifat intermiten, serta pendanaan awal untuk instalasi teknologi hijau.

Namun, dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah, pemangku kepentingan pariwisata, dan masyarakat lokal, Bali optimistis dapat menekan emisi karbon secara signifikan sebelum tahun 2030. Langkah ini diharapkan mampu mengukuhkan posisi Bali sebagai pionir destinasi wisata berbasis emisi rendah (low-carbon destination) di Asia Tenggara.

Back To Top