Monumen Perjuangan Puputan Badung, Simbol Sejarah di Jantung Denpasar

Pengantar Monumen Perjuangan Puputan Badung berdiri megah di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung (populer sebagai Lapangan Puputan Badung) di pusat Kota Denpasar. Monumen ini dibangun untuk menghormati peristiwa heroik Puputan Badung tahun 1906. Berada di area terbuka hijau yang dikelilingi taman dan pepohonan rimbun, kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai situs sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik rekreatif bagi warga dan wisatawan.

Sejarah Singkat dan Kronologi Peristiwa

  • Latar Pemicu Konflik
    Perselisihan bermula dari karamnya kapal Sri Kumala (Srikomala) pada 27 Mei 1904 di Sanur. Pemerintah kolonial Belanda melontarkan tuduhan penjarahan terhadap rakyat Sanur, yang menjadi dalih politik untuk menekan Kerajaan Badung.
  • Tanggal-Tanggal Penting
    • 14 September 1906: Pasukan Belanda melancarkan invasi dan mendarat di pantai Sanur, melancarkan gempuran bertahap menuju area Puri.
    • 19 September 1906: Raja Badung menggelar upacara Pelebon (kremasi) kakanda sebagai bentuk persiapan spiritual dan fisik sebelum pertempuran puncak.
    • 20 September 1906: Puncak perlawanan terjadi. Raja Denpasar, para bangsawan, dan ribuan warga turun ke medan laga memilih puputan (bertempur hingga titik darah penghabisan) demi mempertahankan kehormatan. Puri Denpasar runtuh setelah pertempuran dahsyat ini.

Catatan Historis: Terdapat beberapa variasi kronologi dan durasi pertempuran dalam literatur sejarah, namun mayoritas referensi mencatat 20 September 1906 sebagai peristiwa puncak.

Tokoh dan Pihak Terlibat

  • I Gusti Ngurah Made Agung: Raja Denpasar/Badung yang memimpin perlawanan secara langsung. Beliau dikenang atas keberaniannya memilih perjuangan fisik dan spiritual daripada tunduk pada penjajah.
  • Kerajaan Badung: Meliputi pusat pemerintahan dan sosial di Puri Denpasar serta Puri Pemecutan yang menjadi fokus perlawanan.
  • Masyarakat Badung: Ribuan warga terlibat dalam ritual persiapan—termasuk pengerahan tirta pangentas—dan bergabung dalam aksi perlawanan kolektif.

Revitalisasi dan Fungsi Edukatif

Monumen Perjuangan Puputan Badung telah melalui penataan ulang dan resmi dibuka kembali pada Jumat, 14 November 2025. Revitalisasi ini memperbarui area sekitar agar kawasan semakin nyaman dan representatif sebagai landmark sejarah kota.

  • Akses Edukasi: Di sekitar monumen terdapat papan informasi dan ringkasan sejarah peristiwa Puputan Badung 1906 yang dapat dibaca pengunjung secara gratis.
  • Aksesibilitas dan Fasilitas: Terbuka untuk umum setiap hari tanpa biaya masuk area. Biaya parkir kendaraan di sekitar lapangan terjangkau, mulai dari Rp2.000.

Monumen Perjuangan Puputan Badung tetap berdiri teguh sebagai penanda sejarah sekaligus ruang publik yang hidup. Kehadirannya terus mengingatkan generasi penerus akan nilai keberanian, kedaulatan, dan pengorbanan para leluhur Bali.

https://www.instagram.com/reel/DdanoWYT9t_/?stkn=MWJzZ3RvbW5udDZlag==

Back To Top