Siap-siap terpana. Puluhan wanita berjalan beriring, menyeimbangkan susunan buah dan bunga di atas kepala. Semua itu berlangsung tepat saat matahari mulai turun di balik pura yang menempel di batu karang. Suasana lalu penuh warna, bunyi kendang, dan aroma makanan tradisional.
Gebogan itu apa, sebenarnya?
Gebogan, kadang disebut pajegan. Susunan buah-buahan, jajanan pasar, dan bunga segar ditata menjulang pada sampian dan dialasi nampan atau tampah. Barang yang dijunjung bukan hanya pajangan. Dalam tradisi Hindu Bali, gebogan dipersembahkan sebagai wujud rasa syukur, atau yadnya. Biasanya perempuan, ibu-ibu dan gadis, yang membawa. Gaya langkahnya halus. Beban di kepala itu juga simbol keteguhan dan keanggunan.
Bagaimana Parade Gebogan di Tanah Lot berjalan?
Tanah Lot Art & Food Festival VII digelar di DTW Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan. Acara ini berlangsung selama tiga hari, 28–30 Agustus 2026. Konsep festival mematok jam senja untuk parade: tema “Sunset in Paradise”. Di momen itulah parade gebogan dan baleganjur tampil serentak.
Desa Adat Beraban jadi pelaksana utama. Ada keterlibatan 15 banjar adat secara total. Setiap hari tampil lima banjar. Pada penyelenggaraan 2026, gebogan yang dipamerkan membawa nuansa tridatu: Merah, Putih, Hitam. Baleganjur khusus mengiringi prosesi, memberi ritme yang membuat langkah makin dramatis.
Kuliner Ulam Carik: apa yang bisa dicoba?
Festival mengangkat tema kuliner “Ulam Carik”. Stan UMKM lokal berjajar. Beberapa sajian bahkan dibagikan gratis pada jam-jam tertentu. Berikut daftar makanan khas yang hadir:
- Jajuk Laklak
- Kue berbahan tepung beras dan santan.
- Warna hijau alami dari daun suji atau pandan.
- Disajikan hangat dengan kelapa parut dan juruh, gula merah cair.
- Tipat Entil
- Khas Desa Wongaya Gede, Tabanan.
- Ketupat dibungkus khusus menggunakan daun nyelep (daun pohon teleng).
- Disajikan dengan kuah santan penuh bumbu (base genep), sayur urap, dan ayam sisit.
- Hidangan lain di tema Ulam Carik
- Lindung metunu (belut panggang).
- Jukut gondo.
- Kakul (keong sawah) dengan bumbu suna cekuh.
- Pepes ikan air tawar.
- Kudapan dan minuman tradisional seperti rujak bir, jaje uli tape, rujak tibah (mengkudu), dan loloh cemcem.
Staf stan biasanya berasal dari pelaku UMKM lokal. Untuk jam pembagian gratis, panitia mengumumkannya di lokasi selama festival.
Siapa yang menggerakkan acara ini?
Manajemen DTW Tanah Lot yang memimpin penyelenggaraan. Nama yang muncul sebagai manajer adalah I Wayan Sudiana. Bendesa Adat Beraban I Ketut Sujana menjelaskan peran desa adat dan banjar-banjar. Perwakilan pemerintah daerah hadir, termasuk I Gede Susila sebagai Sekda Tabanan yang memberi dukungan resmi.
Pihak penyelenggara dan pemerintah daerah melihat festival sebagai alat promosi destinasi. Mereka juga menyebutkan tujuan pelestarian budaya dan upaya mendorong perputaran ekonomi serta kunjungan wisata di Kabupaten Tabanan.
Apa yang bikin wisatawan datang?
Pertama: suasana visual. Pantulan cahaya matahari di laut plus barisan gebogan jadi kombinasi sulit dilupakan. Kedua: ritme musik baleganjur yang mengatur langkah. Ketiga: makanan tradisional yang jarang ditemui di kafe modern. Fotografer suka momen senja. Wisatawan yang ingin merasakan Bali tradisional bisa menjumpai banyak elemen itu dalam satu paket.
Tip singkat sebelum berangkat
- Datang lebih awal sebelum senja; untuk mendapatkan posisi foto yang enak, diperkirakan sekitar 30–60 menit sebelum matahari terbenam.
- Bawa kamera atau ponsel dengan baterai penuh.
- Periksa jadwal stan kuliner jika ingin mencicipi hidangan gratis, karena penyajiannya berlangsung pada jam tertentu.
- Tahu bahwa parade dan baleganjur diselenggarakan oleh Desa Adat Beraban bersama 15 banjar; nuansa adat terasa kental.
Catatan: soal tiket masuk, parkir, atau fasilitas lain sebaiknya dicek langsung ke pengelola DTW Tanah Lot atau pengumuman resmi acara, karena informasi tersebut tidak tercantum di sini.
Jadi gini ceritanya
Parade Gebogan di Tanah Lot pada 28–30 Agustus 2026 menggabungkan ritual adat, tampilan visual, dan pilihan rasa lokal lewat tema Ulam Carik. Desa Adat Beraban, 15 banjar, manajemen DTW Tanah Lot, serta dukungan pemerintah daerah membuat acara ini berjalan sebagai festival tiga hari yang fokus pada seni dan kuliner tradisional. Bagi yang pernah hadir, pengalaman itu akan terus terekat: berjalan di tepi pantai, kepala penuh warna, perut penuh rasa.
